kontradiksi malam

sayang,
mungkin kau tak akan pernah perduli dengan langit malam yang acap aku jadikan pelataran rasaku,
karena aku tahu, dan seperti katamu, hatimu bukanlah bilangan-bilangan matematika,
yang bisa ditambahkan, dikurangkan, dikalikan, dan dibagikan....
hatimu adalah pualam nan solid dan tanpa pori.

aku tahu,
seberapa jauh aku bisa melangkah mengiringi perjalanan hidupmu,
karena aku hanyalah sepenggal rasa yang tersisa,
yang hanya tinggal menunggu waktu,
untuk kemudian menjadi lalu.....
sementara,
waktu bagimu adalah sejarah yang terbentang,
yang menyediakan ladang-ladang subur dan kolam-kolam anggur,
yang penuh bunga dan kupu-kupu,
yang penuh dengan ikan aneka warna,
yang akan penuh senyum dengan jari tangan dan usap lembut telapakmu,
untuk mereka yang kau janjikan selalu ada......

sayang,
dan malam pun akan segera merampungkan ceritanya,
menyerahkan perannya kepada pagi,
dan meninggalkan sejumput rasa pada segumpal hati,
yang entah sampai kapan akan mengembalikannya kepada sang pemilik,
dan ketika siang pasti menjemput,
rasa pun belingsat mencari-cari arah....
dimanakah kau baringkan hatimu semalam,
saat jiwaku tenggelam di genangan pinggir jalan?

perlahan...
rembulan sayu beringsut dalam perjalanan diamnya,
ada burung malam sekelebat terbang menuju entah,
seraut wajahmu menghalangi pandang,
suaraku sirna menggemakan namamu,
sayang.....
dimanakah kau sembunyikan jiwamu saat ini,
ketika kegelisahan membimbing langkahku?

ahhhhhh.....
dengan tarikan nafas yang tak lagi bisa aku rasakan,
dan getar bibir yang tak lagi sanggup menghantarkan rasa,
hanya kata-kata ini yang bisa aku tinggalkan,
dengan harapan.... aku masih layak kau kenang!

selamat malam, sayang
kau lihat.... ?
ada seekor burung malam tersudut di bangku teras,
tubuhnya mengigil menahan rindu yang tak sanggup ia bendung,
suaranya pun telah parau melantunkan doa dan puji semesta,
kau lihat.... !
ia tak berdaya.......


mn yeha 012012

Komentar

Postingan Populer