sajak hujan satu ketika
sekelumit awan diam mengambang
entak sudah berapa lama ia menunggu kesempatan ini datang
sebab paru-parunya telah penuh berisi air,
dan tempat duduknya tak lagi rata
hanya keharusan yang memaksanya masih bertahan,
keharusan menyelesaikan takdir
barangkali saja tak lama lagi cahaya pun akan pergi darinya,
telah cukup ia dengan cerita ini
sepanjang jalan catatan telah ia buat,
pada batu, tanah, pasir, dinding, dan daun-daun
ia menuliskan apapun,
pun tentang lintah-lintah dan cacing-cacing
tentang darah, tulang, kulit, rambut, bahkan tentang kuku
ia menulis dengan matanya,
menulis dengan jantungnya,
dengan tangan dan kakinya,
dengan ujung kemaluannya
: semesta
pagi sekali, sebelum seluruh rotasi berjalan sempurna
ia memompakan paru-parunya,
agar sedikit berkurang rasa tawar yang mengganggu pikirannya semalam
tentang tanah yang telah lama ditinggal penghuninya
tentang jiwa yang kehilangan kemerdekaan
tentang luka yang tak lagi terasa
tentang borok
tentang nanah,
setelah dirasa cukup udara memenuhi rongga paru,
ia pun menyegerakan langkah menuju purnama
ia mencari ke arah datang matahari
ia mencari sumber cahaya
ia ingin segera mengakhiri pengembaraannya
telah cukup baginya segala nyanyian dan syair
pun segala jenis anggur dan alkohol yang melambungkan
ia ingin menyelesaikan penugasannya
dengan melepas seluruh baju dan atribut yang menempel di sekujur tubuh keterpaksaannya
ia ingin mati telanjang
ia ingin memamerkan ketajaman ujung kelaminnya
yang selama ini ia banggakan sebagai pemberi tanda akhir dari setiap tulisannya
ia ingin mati dalam sunyi
dalam diam tak terperi
dalam baluran balsam surga
ia ingin abadi dalam nyala api
setidaknya sampai siang nanti,
saat matahari menempatkan bayangantubuhnya tepat diinjakannya sendiri
perlahan,
dengan hanya beringsut,
entak sudah berapa lama ia menunggu kesempatan ini datang
sebab paru-parunya telah penuh berisi air,
dan tempat duduknya tak lagi rata
hanya keharusan yang memaksanya masih bertahan,
keharusan menyelesaikan takdir
barangkali saja tak lama lagi cahaya pun akan pergi darinya,
telah cukup ia dengan cerita ini
sepanjang jalan catatan telah ia buat,
pada batu, tanah, pasir, dinding, dan daun-daun
ia menuliskan apapun,
pun tentang lintah-lintah dan cacing-cacing
tentang darah, tulang, kulit, rambut, bahkan tentang kuku
ia menulis dengan matanya,
menulis dengan jantungnya,
dengan tangan dan kakinya,
dengan ujung kemaluannya
: semesta
pagi sekali, sebelum seluruh rotasi berjalan sempurna
ia memompakan paru-parunya,
agar sedikit berkurang rasa tawar yang mengganggu pikirannya semalam
tentang tanah yang telah lama ditinggal penghuninya
tentang jiwa yang kehilangan kemerdekaan
tentang luka yang tak lagi terasa
tentang borok
tentang nanah,
setelah dirasa cukup udara memenuhi rongga paru,
ia pun menyegerakan langkah menuju purnama
ia mencari ke arah datang matahari
ia mencari sumber cahaya
ia ingin segera mengakhiri pengembaraannya
telah cukup baginya segala nyanyian dan syair
pun segala jenis anggur dan alkohol yang melambungkan
ia ingin menyelesaikan penugasannya
dengan melepas seluruh baju dan atribut yang menempel di sekujur tubuh keterpaksaannya
ia ingin mati telanjang
ia ingin memamerkan ketajaman ujung kelaminnya
yang selama ini ia banggakan sebagai pemberi tanda akhir dari setiap tulisannya
ia ingin mati dalam sunyi
dalam diam tak terperi
dalam baluran balsam surga
ia ingin abadi dalam nyala api
setidaknya sampai siang nanti,
saat matahari menempatkan bayangantubuhnya tepat diinjakannya sendiri
perlahan,
dengan hanya beringsut,
seolah enggan sekali sang waktu mengakhiri perjalanan harinya
padahal gak ada perdulinya ia dengan semua yang dilewatinya
karena ia hanya pelintas
atau mungkin ia sedang bermain-main dengan yang namanya takdir
mesti ia sendiri tak mengerti, dan tak pernah selintas pun logikanya memikir itu takdir
karena baginya menjalani itu sudah cukup
karena baginya ia sendirilah takdir
yang harus dijalani
yang harus diselesaikan
dan dipulangkan
kepada sore yang sebentar lagi akan menjemputnya
dan benar tiba-tiba langit pun telah mati cahaya
warna-warna hilang makna
kehidupan harus betukar tempat
namun kemana perginya sang penulis
yang sedari siang tak menampakkan penanya sama sekali
apakah ia telah kehabisan tinta
atau ia masih menunggu
menunggu setiap momen pergantian hari
dan menitipkan selembar catatannya untuk dibawa sang pelintas kepada sisi lain kehidupan yang sama sekali tak dikenalnya
dan memang seperti yang selama ini berlangsung ia selalu membuat catatan baru dan selalu menitipkan kepada sang pelintas
dengan menyelipkan lembar catatan itu di saku sang pelintas yang selalu terbuka untuknya
dan malam pun pergi membawa satu catatan sang penulis
yang tak akan pernah dibaca siapa pun dengan nafasnya
: malam menuju puncak hari
tiba-tiba langit malam pecah
suara gemuruh petir dan halilintar membangkitkan seribu kematian
dan hujan pun turun
sebelum sang pelintas berhasil menyampaikan titipan sang penulis
abjad-abjad itu pun mengablur bersama luluhnya lembar catatan
dan esok pagi
sang penulis masih menanti di awal hari
sementara sang pelintas telah mengakhiri tugasnya
padahal gak ada perdulinya ia dengan semua yang dilewatinya
karena ia hanya pelintas
atau mungkin ia sedang bermain-main dengan yang namanya takdir
mesti ia sendiri tak mengerti, dan tak pernah selintas pun logikanya memikir itu takdir
karena baginya menjalani itu sudah cukup
karena baginya ia sendirilah takdir
yang harus dijalani
yang harus diselesaikan
dan dipulangkan
kepada sore yang sebentar lagi akan menjemputnya
dan benar tiba-tiba langit pun telah mati cahaya
warna-warna hilang makna
kehidupan harus betukar tempat
namun kemana perginya sang penulis
yang sedari siang tak menampakkan penanya sama sekali
apakah ia telah kehabisan tinta
atau ia masih menunggu
menunggu setiap momen pergantian hari
dan menitipkan selembar catatannya untuk dibawa sang pelintas kepada sisi lain kehidupan yang sama sekali tak dikenalnya
dan memang seperti yang selama ini berlangsung ia selalu membuat catatan baru dan selalu menitipkan kepada sang pelintas
dengan menyelipkan lembar catatan itu di saku sang pelintas yang selalu terbuka untuknya
dan malam pun pergi membawa satu catatan sang penulis
yang tak akan pernah dibaca siapa pun dengan nafasnya
: malam menuju puncak hari
tiba-tiba langit malam pecah
suara gemuruh petir dan halilintar membangkitkan seribu kematian
dan hujan pun turun
sebelum sang pelintas berhasil menyampaikan titipan sang penulis
abjad-abjad itu pun mengablur bersama luluhnya lembar catatan
dan esok pagi
sang penulis masih menanti di awal hari
sementara sang pelintas telah mengakhiri tugasnya
: hujan
hujan adalah kehidupan
dan hujan pun adalah kematian
karena di sini hujan hanya sekali
yeha ngw 19.08.2011
Komentar