surat cinta terbuka untuk orang tercinta
sayang,
aku tulis surat ini ketika segenap rasaku hanya untukmu
aku sengaja membutakan mataku, agar yang nampak hanya wajahmu
aku sengaja menulikan telingaku, agar yang terdengar hanya sumringah candamu
sengaja aku menyediakan rongga-rongga nafasku hanya untuk merenung tentangmu
sayang,
aku tulis surat ini kala rasa rindu padamu menggelayuti bahu malamku
dan sepi menghantui setiap kalimat yang aku baca
sayang,
aku tulis surat ini kala ingatku tentangmu menari-nari di lembar-lembar kenangku
ketika kita saling berpegang tangan,
saat kita berbagi peluk,
kala kita bertukar warta,
selagi kita mencurahkan rasa dengan apa adanya
pagi ini,
pada selembar kertas putih yang tergantung di langit
aku melihat arak-arakan mendung hitam dengan suara gemuruh berebut pengakuan
lalu aku melihat pula segumpal mega putih,
tanpa kata menyudut di balik puncak gunung
wajahnya murung,
mungkin ada kata tak terucap oleh mulutnya yang kelu karena rindu
atau mungkin suaranya tak sanggup menandingi gemuruh arak-arakan mendung
hatinya sunyi,
karena dermaga yang dia harap bisa menjadi tambatan di sisa harinya
terusik oleh angin dan ombak yang tak kunjung reda
sayang,
kemarilah duduk di sebelahku
biar aku usap mesra gerai rambutmu yang seolah mayang menebar wewangi
karena mungkin ini duduk terakhir kita
sebelum sang waktu mengalahkan kita
sayang,
aku tulis surat ini ketika segenap rasaku hanya untukmu
sengaja aku menyediakan rongga-rongga nafasku hanya untuk merenung tentangmu
dan memulakanmu seperti sedia
saat tawa candamu laksana embun pagi
sayang,
aku tulis surat ini kala ingatku tentangmu menari-nari di lembar-lembar kenangku
dan gundah merajah hati
maaf ... aku mencintaimu
yeha - mn, 06072011
aku tulis surat ini ketika segenap rasaku hanya untukmu
aku sengaja membutakan mataku, agar yang nampak hanya wajahmu
aku sengaja menulikan telingaku, agar yang terdengar hanya sumringah candamu
sengaja aku menyediakan rongga-rongga nafasku hanya untuk merenung tentangmu
sayang,
aku tulis surat ini kala rasa rindu padamu menggelayuti bahu malamku
dan sepi menghantui setiap kalimat yang aku baca
sayang,
aku tulis surat ini kala ingatku tentangmu menari-nari di lembar-lembar kenangku
ketika kita saling berpegang tangan,
saat kita berbagi peluk,
kala kita bertukar warta,
selagi kita mencurahkan rasa dengan apa adanya
pagi ini,
pada selembar kertas putih yang tergantung di langit
aku melihat arak-arakan mendung hitam dengan suara gemuruh berebut pengakuan
lalu aku melihat pula segumpal mega putih,
tanpa kata menyudut di balik puncak gunung
wajahnya murung,
mungkin ada kata tak terucap oleh mulutnya yang kelu karena rindu
atau mungkin suaranya tak sanggup menandingi gemuruh arak-arakan mendung
hatinya sunyi,
karena dermaga yang dia harap bisa menjadi tambatan di sisa harinya
terusik oleh angin dan ombak yang tak kunjung reda
sayang,
kemarilah duduk di sebelahku
biar aku usap mesra gerai rambutmu yang seolah mayang menebar wewangi
karena mungkin ini duduk terakhir kita
sebelum sang waktu mengalahkan kita
sayang,
aku tulis surat ini ketika segenap rasaku hanya untukmu
sengaja aku menyediakan rongga-rongga nafasku hanya untuk merenung tentangmu
dan memulakanmu seperti sedia
saat tawa candamu laksana embun pagi
sayang,
aku tulis surat ini kala ingatku tentangmu menari-nari di lembar-lembar kenangku
dan gundah merajah hati
maaf ... aku mencintaimu
yeha - mn, 06072011
Komentar