kertas
sore di teras pondok, ada hujan yang enggan
anginnya menerbangkan sunyi
melewati lembah, kebun, dan bukit
gigil tulang menunggu datangmu
apakah engkau akan datang dalam hujan ?
sebentar-sebentar terlihat cahaya berjalan dan lenyap di rimbun tikungan
itukah kamu ?
dalam gigil aromamu belum lagi tercium hidung malam
rindu menggantung di ujung jemari
hangatnya mengundang kabut
malam jangan cepat tinggi
beri sedikit kesempatan waktu membujuk detik
ia harus datang sore ini
karena sebait puisi telah menunggu untuk selembar kertas yang ia janjikan
hai... sapamu
maaf aku memilih kertas di tanganmu
dari pada memelukmu di rindu yang pasti
karena aku ingin kau segera bisa membaca bait puisi yang akan aku tuliskan
sebelum kata-kataku bisu di bibirmu
malam di teras pondok, ada rindu menunggu tuntas
bersetubuh di keesaanmu
mn 251118
anginnya menerbangkan sunyi
melewati lembah, kebun, dan bukit
gigil tulang menunggu datangmu
apakah engkau akan datang dalam hujan ?
sebentar-sebentar terlihat cahaya berjalan dan lenyap di rimbun tikungan
itukah kamu ?
dalam gigil aromamu belum lagi tercium hidung malam
rindu menggantung di ujung jemari
hangatnya mengundang kabut
malam jangan cepat tinggi
beri sedikit kesempatan waktu membujuk detik
ia harus datang sore ini
karena sebait puisi telah menunggu untuk selembar kertas yang ia janjikan
hai... sapamu
maaf aku memilih kertas di tanganmu
dari pada memelukmu di rindu yang pasti
karena aku ingin kau segera bisa membaca bait puisi yang akan aku tuliskan
sebelum kata-kataku bisu di bibirmu
malam di teras pondok, ada rindu menunggu tuntas
bersetubuh di keesaanmu
mn 251118
Komentar